PENDAKIAN PERTAMA
( gunung gede 2958 Mdpl )
Pada hari itu tercatat pada tanggal 9
agustus 2014, Saya mendaki bersama bang adin,bang fauzi,dan bang ucup
Pada awalnya
Saya sempat merasa ragu dalam memutuskan mau ikut atau tidak.?
Lalu Saya memberanikan diri saja untuk ikut mendaki karna
saya dari kecil ingin mendaki gunung, untuk mendapat pengalaman.
Pas jam setengah
enam pagi saya siap-siap packing barang untuk berangkat. Perjalanan pertama,
saya naik angkutan umum ke titik dimana memulai pendakian. Kami mendaki dengan
jalur ilegal, karena saat itu gunung gede sedang di tutup untuk memulihkan
kawasan gunung gede( penutupan rutin ).
Pendakian di
mulai dari kp.rasamal (gede) itu daerah di kaki gunung gede yang berada di
jalur jalan rancagoong – warung jengkol.
Saya
berhenti di sebuah warung untuk membeli logistik dan makanan ringan, dan
mempersiapkan untuk memulai pendakian, awal pendakian kita menyusuru jalan
aspal dan berakhir di lapangan bola, dari lapangan bola kita mulai menyusuri
jalur setapak
Seasampainya
di kebunteh kami sempat salah jalan dan mulai kebingungan di area perkebunan
teh. Lalu saya menanyakan kepada warga sekitar arah yang benar, meskipun saya
bersama orang yang sudah berpengalaman tapi perjalanan tidak semulus yang saya
bayangkan, kawasan kebun teh-pun sudah kulalui dan saya bersama bang adin, bang
ucup, dan bang fauzi mulai memasuki kawasan hutan.
Meskipun ke hutan tapi tidak tersesat
karna sudah ada jalan untuk di lewati, perjalanan mulai terhenti di sebuah mata
air untuk mengisi perut yang kelaparan yang sedari pagi tidak di isi makan dan
untuk meregangkan otot kaki yang pegal karna sudah berjalan begitu jauh.
Tidak lama
kami melanjutkan perjalanan-nya lagi. Tetapi lagi-lagi saya berhenti karna ada
sahabat saya yang merasa kakinya pegal dan haus beristirahat terlebih dahulu.
Meskipun perjalanan bayak terhentinya
tapi sedikit-sedikit kami memasuki lebih dalam hutan. Saya dan ketiga sahabat
saya terkejut saat saya mendengar ada suara manusia dan gonggongan anjing. Saat
saya merasa takut dengan adanya suara tersebut, lantas sudah itu saya menemukan
darimana asal suara tersebut, ternyata ada 3 orang pemburu yang sedang mencari
hewan buruan.
Hari mulai
senja dan kakipun sudah tak sanggup lagi untuk berjalan, kami memutuskan untuk
berkemah di tenga hutan, karena melihat cuaca yng sudah mulai gelap, kami pun
lantas memasang tenda dan memasak nasi untuk kita makan,dan tidak lupa kami
solat dzuhur dan asar dengan cara tayamum.
Hari mulai
gelap dan langitpun berubah menjadi hitam, saat itu tak ada yang bisa kita
lakukan, untunglah ada bang ucup yang
bawel dari semenjak kita naik, yang memecahkan kesunyian malam menjadi luapan
keter-tawaan, pada saat itu saya merasa takut saat pertamakali kemah di tenga
hutan, dan sayapun tidak tahan akan dinginnya cuaca di tengah hutan, meskipun
saya memakai baju tiga lapis,sarung,dan sleepingbag tapi saya tetap merasa
kedinginan. Meskipun begitu rasa kantuk sudah tidak bisa ku bendung lagi,
lantas saat itupun saya langsung tertidur pulas.
Sekitar tengah
malam, bang adin terbangun dari tidurnya karena mendengar suara kaki berjalan
dan melihat bayangan hitam yang melintas di tenda kita, karena kami nenda di
jalur pendakian. Hehe maklum sudah terlalu cape. Bang adin tidak berani
mengecek karena hari lalurt malam banget dan suasana mencekam karena takut.
Pagi harinya
sekitar pukul setengah lima saya bangun untuk melaksanakan solat subuh, baru
kali ini saya mendapatkan hiburan gratis, saat burung-burung berkicaw dan
matahari sedikit-sedikit menembus rimbunnya dedaunan dan angin yang menghembus
segar.....
Kemudian
kami membuat api unggun untuk menghangatkan badan
dan membuat sarapan pagi. Pas sedang sarapan kemudian bang adin menceritakan
kejadian janggal semalam yang katanya ia mendengar dan meliat orang.
“kalo dia pendaki, dia akan berhenti terlebih dahulu untuk meminta air”
karena jalur yang kita lewati hanya ada 1 mata air yaitu yang dibawah tadi, dan pada jam setengah delapan pagi kami membereskan tenda untuk bergegas melanjutkan perjalanan, lalu pada tengah perjalanan kami kehabisan air minum, karena bang ucup dang bang fauzi merasa haus akhirnya dia meminum air embut yang ada pada botol air yang tegeletak di jalur, meski kondisi air dikatakan tidak layak minum.
“kalo dia pendaki, dia akan berhenti terlebih dahulu untuk meminta air”
karena jalur yang kita lewati hanya ada 1 mata air yaitu yang dibawah tadi, dan pada jam setengah delapan pagi kami membereskan tenda untuk bergegas melanjutkan perjalanan, lalu pada tengah perjalanan kami kehabisan air minum, karena bang ucup dang bang fauzi merasa haus akhirnya dia meminum air embut yang ada pada botol air yang tegeletak di jalur, meski kondisi air dikatakan tidak layak minum.
karna kita
naik semakin tinggi udarapun semakin menipis, dan saya pun sempat berputus asa,
tetapi saya selalu di beri semangat
oleh ke tiga teman saya..
Dan
penantianpun hampir sampai, kami sampai di puncak gemuruh... disitu kami sempat
kesusahan untuk mencari air minum karna mata airnya sudah kering karna musim
kemararau,dan kamipun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke taman surya
untuk mencari air...
Kita harus
turun bukit karena surya kencana itu lembah yang di apit oleh 2 puncak
Dan akhirnya kami sampai di taman
surya dan menemukan sumber mata air, lalu kami pun bergegas memasang tenda,
karna kalau naik ke puncak gede tidak memungkinkan karna hari sudah menjelang
siang.
Di taman surya kami istirahat begitu
lama, pada hari itu cuaca sangat terik, lalu kami meneduh di suatu pohon, dan
ternyata pohon itu ada buahnya yaitu arben lalu tampa basa basi kami pun
memetik arben itu, dan waktu saya memetik arben, karna saking enaknya saya
sampai menginjak poop manusia “muak” .pengalaman yang paling menjijikan “sial”
sembari bergegas ke mata air..lalu saya bergegas mencuci kaki saya. Lalu saya
kembali kepohon itu untuk meneduh kembali.
Pas saya meneropong keindahan taman
surya, saya melihat asap putih pekat, kirain saya itu kabut tebal.... lalu 2
teman saya menghampir asap pekat itu.. dan teman saya terejut dengan adanya api
yang membakar tanaman ... lalu teman saya bergegas memadamkan api dan meanggil
saya bang ucup..
“ wey ada kebakaran tuh disitu, bawa air dalam botol yang sekiranya kamu bisa bawa, dan bawa ranting untuk memadamkan api” .
karena lokasi kebakaran sangat jauh dari tenda. Airpun sedikit demi sedikit di minum di jalan “ aus coy “
tetapi kita lanjut untuk memadamkan api.
“ wey ada kebakaran tuh disitu, bawa air dalam botol yang sekiranya kamu bisa bawa, dan bawa ranting untuk memadamkan api” .
karena lokasi kebakaran sangat jauh dari tenda. Airpun sedikit demi sedikit di minum di jalan “ aus coy “
tetapi kita lanjut untuk memadamkan api.
Saya
terkejut pas saya melihat lahan yang terbakar itu cukup besar diameternya sekitar 10 x 20 m2 dan semakin membesar karena angin yang
berhembus kencang, lalu saya memadamkannya, dengan bersusah payah akhirnya
lahan itu bisa dipadamkan oleh kami, lalu saya pulang ke tenda, tapi bang.adin
sama bang ucup tidak pulang ketenda mereka melihat ada asap yang sama, dan
perkiraannya pun benar ada kebakaran lagi, kebakaran itu lebih besar dari yang
pertama hampir menghabiskan tanaman edelwais (buga abadi).. tetapi mereka
berhasil memadamkan api tersebut....
Hari semakin
sore menjelang malam... kami pun menyalakan api unggun untuk menghangatkan
tubuh dan mencegah dari binatang buas dan memasak makanan untuk makan sore..
Usut punya
usut kebakaran itu disebab puntung rokok pendaki yang mau pulang yang masih hidup
dan tertiup angin, karena cuaca terik akirnya api menyebar begitu cepat dan
membakar ilalang.
Hari semakin
senja, pada hari itu di surya kencana cuman ada kami ber 4 yang ada di sana,
kami pun bergegas masuk ke tenda karena cuaca semakin dingin.
Salah satu
teman saya melihat ada yang bergerak-gerak di semak-semak
“itu apaan tuh besar banget” kata bang .ucup...
“ah itu paling rusa” kata bang fauzi sembari meneropong...
“ bukan itu babi hutan, lihat moncongnya sangat panjang” kata bang.adin sembari menutup tenda....
kiranya itu tikus gunung,, eh pas di teropong ternyata itu babi hutan yang sangan besar, kami pun ketakutan karna saking besarnya itu babi hutan, sempat memutus kan kami besok ga jadi naik ke puncak gunung gede karna saking takutnya, tetapi bukan hanya babi hutan saja yang ada pada malam itu ternyata ada anjing hutan pula, suasana semakin mencekam ketika anjing itu menggonggong, kami pun berdoa kepada alloh untuk meminta perlindunga dari binatang buas itu,, lalu bang.adin memimpin doa itu, dan bang,ucup sama bang.fauzi pun menyalakan kembali api unggun yang tadi sempat padam... karna kami lelah karna tadi memadamkan api kami pun tidur dengan situasi hati yng tidak tenang...
“itu apaan tuh besar banget” kata bang .ucup...
“ah itu paling rusa” kata bang fauzi sembari meneropong...
“ bukan itu babi hutan, lihat moncongnya sangat panjang” kata bang.adin sembari menutup tenda....
kiranya itu tikus gunung,, eh pas di teropong ternyata itu babi hutan yang sangan besar, kami pun ketakutan karna saking besarnya itu babi hutan, sempat memutus kan kami besok ga jadi naik ke puncak gunung gede karna saking takutnya, tetapi bukan hanya babi hutan saja yang ada pada malam itu ternyata ada anjing hutan pula, suasana semakin mencekam ketika anjing itu menggonggong, kami pun berdoa kepada alloh untuk meminta perlindunga dari binatang buas itu,, lalu bang.adin memimpin doa itu, dan bang,ucup sama bang.fauzi pun menyalakan kembali api unggun yang tadi sempat padam... karna kami lelah karna tadi memadamkan api kami pun tidur dengan situasi hati yng tidak tenang...
“sebenarnya
kami pas waktu sore waktu pulang memadamkan api mendengar suara yang keras yang
menyeru di puncak gemuruh, tetapi kami tidak menjawabnya dan salah satu dari
teman kami menyebut kata-kata kotor(kebun binatang)”
Pas jam
setengah dua dini hari saya mendengar suara gonggongan anjing itu lagi
“bang deden takut” sembari menggigil kedinginan...
“jangan takut !! sudah tidur lagi ajah” sembari mengelus kepalku.....
dan pada subuh akhirnya anjing itu pun pergi... dan kami pun mekatakan “alhamdulillah anjing itu sudah pergi”
“bang deden takut” sembari menggigil kedinginan...
“jangan takut !! sudah tidur lagi ajah” sembari mengelus kepalku.....
dan pada subuh akhirnya anjing itu pun pergi... dan kami pun mekatakan “alhamdulillah anjing itu sudah pergi”
Lalu kami
solat subuh dan merebus mie untuk sarapan.. dan persiapan untuk mendaki ke
puncak gunung gede...
dan pada jam enam pagi kami mulai
berjalan ke puncak gunung,, sempat ada beberapa kendala pada pendakian itu,
kendala itu adalah sesaknya nya napas karna udara semakin menipis,, setelah
berjalan sekitar satu jam lebih kami pun sampai ke puncak gede itu,,,
akhirnya perjalanan dan rintangan
yang sangat menantang dan banyak itu
terbayar lunas saat melihat pemandangan di puncak gunung gede “subhanalloh maha
besar alloh” Saya takjub dengan keindahan ciptaan alloh ini,,, angin kawah
menghembus badan angin yang meniup badan seakan melayang dan pemandangan yang
di sajikanpun sangat indah....setelah menikmati pemandangan kami pun poto-poto
sebagai kenangan.. dan menelusuri kawah puncak gunung gede...
di puncak gunung gede kami tidak lama
setelah poto-poto kami pun turun kembali ke tenda setelah kami sampai kembali
ke tenda kami menyempatkan untuk memetik arben untuk mengganjal perut,
setelah ke tenda kami membereskan
tenda dan bergegas untuk pulang ke rumah,, dalam perjalanan ke rumah tidak
sesusah naik gunung,, track pulang ke rumah haya turun . karena kami ilegal
kami tidak berani untuk melewati jalur ke bascamp gunung putri. Kamipun
memutuskan untuk melewati jalur perkebunan warga yang jauhya kebangetan, tetapi
pas sesampai-nya di pasir cina kami harus berjalan kaki sangat jauh lagi untuk
sampai ke simpang raya... kami berjalan ada sekitar 10 km dari kaki gunung gede
untuk sampai ke simpang raya(jalan besar) untuk naik buss...menuju pulang ke
rumah.
Jadi intinya kalau kamu ingin naik
gunung kamu harus menyiapkan peralatan, kondisi, logistik dan hari yang baik.
Dan mendakilah sesuai jalur yang di sediakan jangan tiru adegan kami yang
nekad. Dan satu lagi di saat perjalanan kita tidak boleh berbicara asal jeplak
atau kotor karena bisa saja kamu menemui hewannya atau makhluknya, dan selalu
di iringi dengan doa di setiap perjalanannya.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar